Intentional Leadershift

Beranda › Artikel

Cara Menilai Kandidat Saat Wawancara: Mendengar yang Tidak Dikatakan

· 5 menit baca · oleh Agus Jatmika Soegiarto

Sebagian besar pemilik bisnis buruk dalam mewawancarai, dan sebabnya tidak terduga: mereka ingin disukai.

Jadi wawancara berubah jadi percakapan hangat. Anda bercerita tentang visi perusahaan, kandidat mengangguk di tempat yang tepat, dan Anda keluar dengan perasaan bahwa orang ini cocok. Tiga bulan kemudian Anda bingung kenapa hasilnya tidak seperti wawancaranya.

Yang keliru bukan penilaian Anda. Yang keliru adalah Anda mengumpulkan data yang salah.

Kartu kalimat: dengarkan siapa yang hilang dari kalimatnya. Pertanyaan yang salah: “Kalau pelanggan marah, apa yang Anda lakukan?” Pertanyaan yang benar: “Pelanggan paling marah yang pernah Anda hadapi — kapan?”
Tanyakan kejadian nyata, bukan situasi andaian — lalu dengarkan cara kandidat menceritakannya.

Pertanyaan hipotetis menguji imajinasi, bukan kemampuan kerja

“Kalau ada pelanggan marah, apa yang Anda lakukan?”

Pertanyaan ini hampir tidak berguna. Yang diuji adalah kemampuan kandidat menebak jawaban yang Anda inginkan — dan orang yang pandai menebak belum tentu orang yang pandai bekerja. Semua kandidat tahu jawaban yang benar: didengarkan dulu, jangan dibantah, cari solusi. Jawaban itu ada di internet.

Ganti dengan pertanyaan masa lalu yang spesifik: “Ceritakan pelanggan paling marah yang pernah Anda hadapi. Kapan itu, apa persis yang Anda katakan, dan bagaimana akhirnya?”

Bedanya besar. Pertanyaan masa lalu tidak bisa dijawab dengan teori. Ia menuntut detail, dan detail sulit dikarang di tempat.

Tiga hal yang didengar, bukan dinilai

Yang Anda kerjakan di wawancara bukan menilai orang, tapi mendengar struktur kalimatnya. Tiga hal ini paling banyak memberi informasi.

Pertama, siapa subjek kalimatnya. Minta dia cerita soal pencapaian, lalu hitung: dia berkata “saya”, “kami”, atau tidak ada pelaku sama sekali.

“Saya telepon tiga supplier dan dapat harga baru” berbeda dari “akhirnya didapat harga baru”. Yang kedua menghapus pelakunya. Kalau sepanjang wawancara pelakunya selalu hilang, Anda belum tahu apa yang dia kerjakan sendiri. Lanjutkan dengan: “Bagian mana yang Anda sendiri lakukan?”

Kedua, ke mana arah penjelasan saat gagal. Tanyakan satu kegagalan nyata. Dengarkan apakah penjelasannya mengarah ke luar (atasan, tim, pasar, sistem) atau ke dalam (keputusan yang dia ambil).

Ini bukan soal mencari orang yang menyalahkan diri sendiri. Yang Anda cari adalah orang yang bisa menyebut satu keputusannya yang salah tanpa menjadi defensif. Orang yang tidak pernah menyebut satu pun keputusannya sendiri akan sulit dikoreksi nanti.

Ketiga, kata benda abstrak yang dibiarkan. “Saya meningkatkan efisiensi.” “Saya membangun budaya kerja.” Semua ini kosong sampai dipecah. Tanyakan: “Efisiensi apa, dari angka berapa ke berapa, dan Anda ukur bagaimana?”

Kandidat yang pernah benar-benar melakukannya akan punya angkanya. Kandidat yang mengulang bahasa CV akan berputar.

Pertanyaan yang salah dan penggantinya

Yang biasa ditanyaYang sebaiknya ditanyaKenapa
“Apa kelebihan dan kekurangan Anda?”“Pekerjaan terakhir Anda, bagian apa yang paling sering Anda tunda? Contohnya kapan?”Yang pertama menguji kemampuan menyusun jawaban aman. Yang kedua menuntut peristiwa.
“Kalau ada konflik dengan rekan, bagaimana?”“Kapan terakhir Anda berselisih dengan rekan kerja? Apa yang Anda katakan pertama kali?”Konflik hipotetis selalu diselesaikan dengan indah. Konflik nyata punya kalimat-kalimat yang bisa diperiksa.
“Anda bisa kerja di bawah tekanan?”“Ceritakan minggu paling berat di pekerjaan terakhir. Apa yang Anda kerjakan hari Senin?”Tidak ada yang menjawab “tidak” pada pertanyaan pertama.
“Kenapa Anda keluar dari kantor lama?”“Kalau saya telepon atasan Anda di sana, dia akan bilang apa soal cara kerja Anda?”Yang kedua menggeser kandidat ke sudut pandang orang lain, dan jawabannya jauh lebih jujur.
“Anda sanggup target ini?”“Di pekerjaan terakhir, target tertinggi yang pernah Anda capai berapa, dan bagaimana Anda sampai di situ?”Kesanggupan adalah pernyataan. Angka masa lalu adalah bukti.

Contoh percakapan

Anda: “Di CV ada ‘meningkatkan penjualan tim’. Bulan apa itu terjadi?”

Kandidat: “Sekitar pertengahan tahun lalu, Pak.”

Anda: “Dari angka berapa ke berapa?”

Kandidat: “Naik cukup signifikan, kalau tidak salah sekitar tiga puluh persenan.”

Anda: “Yang Anda sendiri lakukan apa, hari-harinya?”

Kandidat: “Kami perbaiki cara follow up-nya.”

Anda: “Kami itu siapa saja, dan bagian Anda yang mana?”

Kandidat: “Saya yang usulkan jadwal telepon pagi. Sebelumnya tim telepon kapan saja. Saya buat jam sembilan sampai sebelas khusus telepon, tidak boleh rapat.”

Anda: “Siapa yang menolak waktu itu?”

Kandidat: “Dua orang senior. Mereka merasa dikontrol. Saya salah di awal — saya umumkan di grup, bukan bicara satu-satu dulu. Jadi dua minggu pertama berantakan.”

Di titik itu wawancara baru menghasilkan sesuatu. Anda sekarang tahu satu tindakan konkret yang dia ambil, satu hambatan nyata, dan satu kesalahannya sendiri yang dia sebut tanpa diminta. Itu lebih berharga daripada satu jam percakapan ramah.

Perhatikan bahwa Anda tidak sekali pun menuduh atau menekan. Anda hanya menolak menerima jawaban yang kabur.

Jangan menilai dari “chemistry”

Perasaan “klik” dalam dua puluh menit pertama adalah sinyal yang paling tidak bisa dipercaya dalam rekrutmen, dan paling sering menang. Biasanya yang terasa klik adalah orang yang mirip Anda: cara bicaranya, latar belakangnya, seleranya. Itu bukan prediktor kinerja; itu cermin.

Penawarnya sederhana. Tentukan tiga pertanyaan masa lalu yang sama untuk semua kandidat, tulis jawabannya, dan bandingkan jawabannya — bukan kesan Anda. Kalau Anda merasa sangat cocok dengan seseorang, itu justru saat untuk memperketat pertanyaan, bukan melonggarkannya.

Satu pertanyaan untuk pemeriksaan referensi

Kebanyakan panggilan ke atasan lama kandidat tidak menghasilkan apa pun, karena pertanyaannya mengundang jawaban aman: “Bagaimana kinerjanya?” Jawabannya hampir selalu “baik”.

Satu pertanyaan ini jauh lebih berguna: “Kalau ada posisi yang cocok, Anda akan merekrut dia lagi?” Lalu diam dan dengarkan jedanya. Jawaban “iya, tentu” datang cepat. Jawaban yang didahului jeda, atau yang dijawab dengan “tergantung posisinya”, adalah informasi — dan biasanya pertanyaan lanjutan Anda cukup satu: “Tergantung apa?”

Pertanyaan kedua yang berguna: “Supaya dia berhasil di tempat baru, apa yang perlu diperhatikan atasannya?” Ini memberi ruang bagi orang untuk jujur tanpa merasa sedang menjatuhkan bekas anak buahnya, dan jawabannya hampir selalu praktis.

Soal NLP dan status ilmiahnya

Di sini perlu sangat jujur, karena wawancara adalah tempat klaim NLP paling banyak disalahgunakan. Gagasan bahwa Anda bisa mendeteksi kebohongan dari arah gerak mata, atau membaca kepribadian dari bahasa tubuh, tidak punya dukungan riset yang memadai. Sebagian model dalam NLP memang tidak kuat secara ilmiah, dan yang ini termasuk yang paling lemah. Jangan memakainya untuk memutuskan nasib orang.

Yang tetap berguna dari tradisi NLP adalah hal yang jauh lebih sederhana: mendengar kata yang orang pakai, menyadari ketika pelaku atau angka hilang dari kalimatnya, dan punya pertanyaan siap pakai untuk mengembalikannya. Itu bukan membaca pikiran. Itu mendengar dengan teliti, dan hasilnya bisa diperiksa dari kualitas orang yang Anda rekrut tahun ini.

Latihan yang membuatnya otomatis

Mendengar kalimat yang kehilangan pelaku, sambil tetap menjaga wawancara terasa nyaman, adalah keterampilan yang hanya terbentuk dengan latihan berulang — bukan dengan menghafal daftar pertanyaan.

Di kelas NLP Practitioner, bagian mendengar inilah yang dilatih paling lama: peserta bergantian bercerita dan membongkar, sampai telinga Anda otomatis menangkap kata yang kosong. Kalau rekrutmen Anda selama ini lebih sering salah daripada benar, perbaikannya dimulai dari apa yang Anda dengar, bukan dari CV yang Anda baca.

Ditulis oleh Agus Jatmika Soegiarto — Licensed NLP Trainer™ by The Society of NLP™.