Intentional Leadershift

Beranda › Artikel

Cara Memberi Pujian ke Karyawan yang Mengubah Perilaku

· 5 menit baca · oleh Agus Jatmika Soegiarto

“Good job, ya.” “Mantap, lanjutkan.” “Kerja bagus semua.”

Anda mengucapkannya dengan niat baik, dan efeknya nol. Bukan karena tim Anda tidak butuh dihargai, tapi karena kalimat itu tidak mengandung informasi. Orang yang menerimanya tidak tahu apa yang harus dia ulangi besok.

Itu bedanya pujian yang enak didengar dan pujian yang mengubah perilaku. Yang pertama membuat suasana hangat selama sepuluh detik. Yang kedua membuat satu perilaku terjadi lagi minggu depan.

Kartu kalimat: pujian tanpa isi tidak mengubah apa pun. Kalimat yang salah: “Good job semuanya.” Kalimat yang benar: “Kamu telepon tiga klien yang biasanya kita email saja.”
Pujian yang mengubah perilaku menyebut tindakannya, bukan sekadar menilai hasilnya bagus.

Pujian yang tidak menyebut apa pun tidak mengubah apa pun

Pujian sebetulnya adalah instruksi yang menyamar. Ketika Anda memuji, Anda sedang berkata: lakukan ini lagi. Masalahnya, kalau Anda tidak menyebut “ini”-nya apa, tidak ada yang bisa diulang.

Lebih buruk lagi, pujian umum sering salah sasaran. Anda memuji presentasinya karena slide-nya bagus; dia menyimpulkan bahwa yang Anda sukai adalah dia bicara panjang. Minggu depan dia bicara lebih panjang lagi. Anda yang mengajarinya.

Ada juga biaya sosial yang jarang dihitung. Di tim yang semuanya dipuji dengan kalimat sama, pujian berhenti bermakna. Orang yang benar-benar bekerja keras merasa disamakan dengan yang tidak, dan pujian Anda berubah menjadi kebisingan latar.

Tiga bagian pujian yang bekerja

Pujian yang mengubah perilaku selalu punya tiga bagian, dan urutannya penting.

  1. Perilaku yang terlihat. Apa persisnya yang dia lakukan. Bukan sifat (“kamu teliti”), tapi tindakan (“kamu cek ulang tiga angka terakhir sebelum kirim”).
  2. Akibatnya pada hal yang nyata. Kenapa itu penting. “Klien tidak perlu bertanya balik, jadi penawaran langsung masuk ke direksi mereka hari itu.”
  3. Namanya, di depan. Panggil namanya. Pujian tanpa nama terasa seperti pengumuman.

Perhatikan bahwa memuji sifat terdengar lebih hangat tapi bekerja lebih buruk. “Kamu memang teliti” adalah label; sekali diberikan, orang akan menjaga label itu, termasuk dengan menyembunyikan kesalahan. “Kamu cek ulang tiga angka terakhir” adalah tindakan; tindakan bisa diulang oleh siapa pun, termasuk oleh rekannya yang mendengar.

Jangan pernah tempelkan “tapi”

Ini aturan yang paling sering dilanggar dan paling mahal. “Presentasinya bagus, tapi lain kali jangan kepanjangan.”

Semua yang ada sebelum kata “tapi” terhapus. Yang tersimpan di kepala orang itu hanya satu hal: kepanjangan. Anda baru saja mengeluarkan energi untuk memuji dan mendapat hasil sebuah teguran.

Kalau Anda punya pujian dan koreksi sekaligus, pisahkan waktunya. Puji sekarang, dengan tiga bagian di atas, lalu selesai. Koreksi besok, sebagai percakapan sendiri. Kalau tidak bisa menunggu, buang “tapi” dan ganti dengan “dan”: “Bagian data tadi kuat dan membuat direksi diam mendengarkan. Yang mau saya bahas terpisah: durasinya.”

Kalimat yang salah dan penggantinya

Yang biasa keluarYang sebaiknya keluarKenapa
“Good job semuanya.”“Rina, kamu telepon tiga klien yang biasanya kita email saja. Dua langsung konfirmasi hari itu.”Yang pertama tidak bisa diulang siapa pun. Yang kedua adalah resep.
“Kamu memang pintar.”“Cara kamu memecah masalahnya jadi tiga bagian tadi bikin rapatnya selesai dua puluh menit.”Memuji sifat membuat orang menjaga citra. Memuji tindakan membuat orang mengulang tindakan.
“Bagus, tapi lain kali lebih cepat ya.”“Hasilnya akurat, nol koreksi dari klien. Soal kecepatan saya mau bahas besok terpisah.”“Tapi” menghapus pujiannya. Memisahkan waktunya menjaga keduanya tetap utuh.
“Untung ada kamu.”“Yang kamu lakukan Jumat itu menyelamatkan pengiriman. Saya mau itu jadi prosedur, bukan keberuntungan.”Yang pertama membuat orang merasa jadi tumpuan. Yang kedua mengubah tindakan jadi sistem.
(diam, karena hasilnya memang sudah seharusnya)“Ini standar yang kita sepakati, dan kamu memenuhinya empat minggu berturut-turut. Itu yang saya hitung.”Diam mengajari tim bahwa hanya kesalahan yang berbuah perhatian.

Contoh percakapan

Direktur: “Yan, boleh sebentar? Soal laporan kemarin.”

Yan: (bersiap dimarahi) “Iya, Pak.”

Direktur: “Kamu taruh ringkasan tiga baris di halaman pertama. Saya tidak minta itu. Akibatnya saya bisa jawab pertanyaan komisaris tanpa membuka lampiran. Itu yang saya mau kamu ulang di laporan berikutnya.”

Yan: “Oh, saya kira malah mengurangi isinya, Pak.”

Direktur: “Justru sebaliknya. Satu hal lagi: ringkasan itu tolong jadi format standar tim, bukan cuma punya kamu. Kamu yang tulis panduannya, satu halaman, minggu depan.”

Dua hal terjadi di situ. Pertama, Yan sekarang tahu persis apa yang harus diulang. Kedua, pujiannya naik jadi tanggung jawab — dan itu bentuk penghargaan yang paling dipercaya orang dewasa.

Di depan orang atau empat mata

Aturan praktisnya: puji perilaku di depan orang, puji orangnya empat mata.

Memuji perilaku di depan tim menyebarkan resepnya — yang lain mendengar apa yang dihargai di sini. Tapi memuji seseorang secara berlebihan di depan rekan-rekannya sering berbalik jadi beban sosial baginya, terutama di tim yang masih bersaing. Kalau yang mau Anda sampaikan bersifat pribadi, sampaikan empat mata.

Kapan pujian justru merusak

Ada tiga situasi di mana memuji membuat keadaan lebih buruk, dan ketiganya sering dilakukan dengan niat baik.

Memuji sebagai pembuka permintaan. “Kamu memang paling bisa diandalkan... jadi tolong ya, lembur lagi akhir pekan ini.” Setelah dua kali, pujian Anda berubah arti: orang belajar bahwa kalimat baik dari Anda adalah tanda akan ada beban tambahan. Kalau Anda perlu meminta sesuatu, minta langsung.

Memuji hasil yang gagal karena kasihan. Ini terasa manusiawi dan menghancurkan standar. Yang bisa Anda hargai dari pekerjaan yang gagal adalah hal yang spesifik dan benar — misalnya dia melapor lebih awal. Hargai itu, lalu bicarakan hasilnya terpisah, apa adanya.

Memuji orang yang sama terus-menerus. Di tim kecil ini cepat terbaca sebagai favoritisme, dan harganya ditanggung oleh orang yang Anda puji. Kalau nama yang sama muncul tiap minggu, kemungkinan besar masalahnya bukan dia terlalu baik, tapi Anda tidak cukup memperhatikan yang lain.

Soal NLP dan status ilmiahnya

Prinsip menyebut perilaku yang bisa diamati, bukan menyimpulkan sifat, adalah salah satu disiplin yang dibawa NLP ke ruang kerja. Perlu jujur: sebagian model dalam NLP tidak punya dukungan riset yang kuat, dan klaim-klaim besar di sekitarnya sebaiknya tidak Anda beli.

Yang berguna adalah kedisiplinannya — memaksa diri menyebut tindakan dan akibatnya, bukan label. Itu bisa dilatih, dan hasilnya bisa Anda ukur: perilaku yang Anda sebut spesifik minggu ini, apakah muncul lagi minggu depan.

Latihan yang membuatnya otomatis

Tiga bagian pujian di atas gampang dibaca dan sulit diucapkan, karena menyebut perilaku berarti Anda harus memperhatikan dulu. Itu bagian yang paling banyak gagal: bukan kata-katanya, tapi kemampuan melihat apa yang sebenarnya orang lakukan.

Di kelas NLP Practitioner, kemampuan mengamati inilah yang dilatih lebih dulu, sebelum kalimatnya. Kalau Anda merasa sudah sering menghargai tim tapi tidak ada yang berubah, kemungkinan besar yang kurang bukan niat Anda.

Ditulis oleh Agus Jatmika Soegiarto — Licensed NLP Trainer™ by The Society of NLP™.