Intentional Leadershift

Beranda › Artikel

Cara Memberi Instruksi Kerja yang Jelas: Lima Kata yang Membuat Tim Salah Mengerjakan

· 5 menit baca · oleh Agus Jatmika Soegiarto

Setiap pemilik bisnis pernah mengucapkan kalimat ini: “Sudah saya jelaskan, kok hasilnya begitu.”

Kemungkinan besar Anda memang sudah menjelaskan. Masalahnya, yang Anda jelaskan lengkap di kepala Anda, dan yang keluar dari mulut Anda tidak. Di antara keduanya ada lubang, dan orang yang menerima instruksi mengisi lubang itu dengan tebakannya sendiri. Dia tidak salah dengar. Dia menebak, karena Anda tidak memberinya pilihan lain.

Kartu kalimat: tim Anda tidak salah dengar, mereka menebak. Kalimat yang salah: “Tolong dirapikan laporannya.” Kalimat yang benar: “Format Februari, total di baris terakhir, sebelum jam empat.”
Instruksi yang jelas menyebut format, letak, dan tenggat — tidak menyisakan ruang untuk menebak.

Lima kata yang terdengar jelas tapi kosong

Ada sekelompok kata yang membuat instruksi terasa sudah selesai padahal belum. Kata-kata ini abstrak: ia merujuk pada sebuah proses, tapi menghilangkan siapa yang melakukan apa, sebanyak apa, dan sampai kapan.

KataYang Anda maksudYang dia dengarPertanyaan presisi
SegeraHari ini sebelum jam limaNanti, kalau yang lain sudah beres“Segera itu jam berapa paling lambat?”
DirapikanFormat seragam, nomor urut, total di bawahDibuat agak enak dilihat“Dirapikan seperti apa, contohnya mana?”
KoordinasiTelepon Pak Budi, dapat konfirmasi tertulisKirim pesan ke grup“Koordinasi dengan siapa, dan hasilnya berbentuk apa?”
Lebih bagusTiga opsi, bukan satuWarnanya diganti“Lebih bagus dibandingkan dengan apa?”
Follow upTelepon, lalu catat jawabannya di sheetDilihat-lihat dulu“Follow up itu kamu melakukan apa, dan saya tahu dari mana?”

Perhatikan kolom paling kanan. Semuanya pertanyaan pendek, dan semuanya ditujukan pada diri Anda sendiri sebelum Anda bicara. Kalau Anda tidak bisa menjawab pertanyaan itu, instruksi Anda belum siap diucapkan.

Satu aturan yang menutup hampir semua lubang

Aturannya begini: setiap kata benda abstrak dalam instruksi harus diganti dengan kata kerja plus pelakunya plus angkanya.

“Perlu ada peningkatan pelayanan” adalah kata benda abstrak. Tidak ada yang bisa mengerjakan “peningkatan”. Yang bisa dikerjakan adalah: “Mulai Senin, setiap chat masuk dijawab maksimal lima belas menit pada jam kerja, dan kamu yang pegang jadwalnya.”

“Komunikasi kita harus diperbaiki” juga kata benda abstrak. Versi yang bisa dikerjakan: “Setiap Jumat jam empat, kamu dan Dedi duduk lima belas menit, lalu kirim saya tiga baris kesimpulan.”

Ini terasa bertele-tele saat ditulis. Di lapangan, ini satu-satunya cara agar Anda tidak mengulang pekerjaan orang lain minggu depan.

Kalimat yang salah dan penggantinya

Yang biasa keluarYang sebaiknya keluarKenapa
“Tolong dirapikan laporannya.”“Laporan pakai format Februari, nomor urut, total di baris terakhir. Kirim sebelum jam empat.”Yang pertama menyerahkan definisi “rapi” ke orang lain. Yang kedua menyebutnya.
“Ini harus segera.”“Ini perlu selesai hari ini jam lima. Kalau tidak mungkin, kabari saya sekarang, bukan jam lima.”“Segera” adalah perasaan. Jam lima adalah kesepakatan.
“Koordinasi dulu sama gudang.”“Telepon Pak Budi di gudang, pastikan stoknya ada, lalu balas saya dengan angkanya.”Yang pertama bisa dipenuhi dengan satu pesan yang tidak dibaca siapa pun.
“Masa gitu aja gak ngerti?”“Saya kurang jelas tadi. Coba kamu ulang dengan kata-katamu, biar saya tahu bagian mana yang saya lewat.”Yang pertama membuat orang berhenti bertanya selamanya. Yang kedua mengembalikan tanggung jawab ke pengirim pesan.
“Pokoknya yang penting beres.”“Dianggap beres kalau tiga hal ini ada: barang terkirim, resi masuk grup, pelanggan konfirmasi terima.”“Beres” tidak bisa diperiksa. Tiga hal konkret bisa.

Contoh percakapan

Pemilik: “Vin, tolong follow up klien yang belum bayar ya.”

Vin: “Oke, Pak.”

Di titik ini sebagian besar percakapan berhenti, dan minggu depan Anda kecewa. Coba lanjutkan.

Pemilik: “Tunggu, saya perbaiki dulu kalimat saya. Follow up yang saya maksud: telepon, bukan chat. Yang ditelepon tiga nama di daftar itu. Tanyakan satu hal — tanggal pasti mereka bayar. Lalu tulis tanggalnya di sheet. Itu kamu bisa selesaikan hari ini?”

Vin: “Dua bisa hari ini, Pak. Yang satu orangnya biasanya susah dihubungi.”

Pemilik: “Bagus, itu informasi yang saya butuh. Untuk yang susah dihubungi, coba dua kali hari ini. Kalau belum tembus, besok pagi saya yang telepon. Kabari saya jam empat, dua baris saja.”

Vin: “Siap.”

Lihat satu hal yang terjadi di situ. Vin baru bisa memberi tahu kendala setelah instruksinya cukup spesifik untuk diperiksa. Instruksi kabur bukan hanya membuat hasil melenceng — ia juga menyembunyikan masalah yang sebenarnya sudah diketahui tim Anda.

Kenapa mereka tidak bertanya balik

Anda mungkin berpikir: kalau tidak jelas, kenapa tidak tanya?

Karena bertanya ada harganya. Di banyak tempat kerja, orang yang bertanya dua kali dianggap lambat. Jadi mereka memilih menebak, lalu berharap tebakannya benar. Semakin Anda terkesan sibuk atau mudah kesal, semakin mahal harga bertanya, dan semakin banyak tebakan yang masuk ke pekerjaan Anda.

Cara paling cepat menurunkan harga itu bukan bilang “jangan takut tanya”. Itu kalimat yang tidak pernah bekerja. Yang bekerja adalah Anda yang meminta pengulangan: “Coba ulang pakai kata-katamu.” Dengan begitu, beban klarifikasi pindah ke Anda, dan orang tidak perlu mengaku tidak paham.

Uji kalimat Anda sebelum diucapkan

Ada satu tes cepat yang bisa Anda jalankan di kepala, dan memakan waktu sepuluh detik.

Bayangkan instruksi Anda dibaca oleh orang yang baru masuk minggu lalu, dan dia tidak boleh bertanya apa pun. Apakah dia bisa mulai bekerja? Kalau jawabannya tidak, lubangnya ada di kalimat Anda, dan Anda masih punya kesempatan menutupnya sebelum diucapkan.

Tes kedua lebih tajam lagi: bisakah dua orang berbeda melaksanakan instruksi itu dan menghasilkan hal yang sama? Kalau hasilnya bisa berbeda-beda, berarti yang Anda sampaikan masih selera, bukan instruksi.

Dan satu kebiasaan terakhir yang nilainya paling besar: akhiri setiap instruksi penting dengan satu permintaan yang sama. “Coba ulang dengan kata-katamu, biar saya tahu yang saya lewat.” Bukan “sudah jelas?” — pertanyaan itu selalu dijawab “jelas”, bahkan oleh orang yang tidak paham sama sekali, karena menjawab “belum” terasa seperti mengaku bodoh.

Soal NLP dan status ilmiahnya

Pola pertanyaan di atas berasal dari apa yang dalam NLP disebut meta model — daftar pertanyaan untuk membongkar kalimat yang kehilangan informasi. Perlu jujur di sini: sebagian model dalam NLP tidak punya dukungan riset yang kuat, dan klaim besar tentang NLP sebaiknya Anda perlakukan dengan skeptis.

Yang tetap berguna adalah disiplin praktisnya: menyadari kata mana yang kosong, dan punya pertanyaan siap pakai untuk mengisinya. Itu bukan teori. Itu kebiasaan bicara, dan hasilnya terukur dari berapa kali pekerjaan harus diulang bulan ini.

Latihan yang membuatnya otomatis

Mengenali kata kosong di kalimat orang lain mudah. Mengenalinya di kalimat Anda sendiri, saat sedang tergesa, jauh lebih sulit — dan justru di situ kerusakannya terjadi.

Di kelas NLP Practitioner, bagian ini dilatih bolak-balik: peserta mengucapkan instruksi nyata dari pekerjaannya, lalu peserta lain menyerang kata-kata kosongnya satu per satu, sampai kebiasaan menyebut angka dan pelaku terbentuk sendiri. Kalau Anda sering merasa harus mengulang pekerjaan tim, mulailah dari kalimat Anda.

Ditulis oleh Agus Jatmika Soegiarto — Licensed NLP Trainer™ by The Society of NLP™.