Intentional Leadershift

Beranda › Artikel

Cara Follow Up Customer yang Tidak Membalas Chat Tanpa Terkesan Mengemis

· 6 menit baca · oleh Agus Jatmika Soegiarto

Anda kirim penawaran. Obrolannya masih hangat waktu itu. Calon pembeli bilang “baik, saya pelajari dulu ya,” Anda jawab “siap, Pak.” Lalu sunyi. Beberapa hari lewat, lalu seminggu. Anda cek lagi: tanda centangnya biru, sudah dibaca, tidak dibalas.

Yang Anda cari sekarang biasanya cara follow up customer yang tidak membalas chat. Template pesan baru, alasan baru untuk menyapa, kalimat yang lebih halus. Tapi masalahnya tidak di situ. Masalahnya ada pada satu kalimat yang tidak pernah Anda ucapkan sebelum percakapan terakhir ditutup.

Prospek tidak hilang karena follow up Anda kurang banyak. Prospek hilang karena percakapan berakhir tanpa kesepakatan apa pun. Tidak ada yang tahu siapa menghubungi siapa, kapan, dan untuk membahas apa. Jadi Anda menebak, dia mendiamkan, dan posisi yang tadinya setara berubah: Anda mengejar, dia dikejar.

Satu ide saja di artikel ini. Tutup setiap percakapan penjualan dengan langkah berikutnya yang disepakati bersama, plus satu pintu keluar yang sopan. Follow up berhenti jadi tebak-tebakan karena sudah dijanjikan di depan.

Follow Up Tanpa Mengemis. Kalimat yang salah: Pak, sudah dilihat penawarannya? Kalimat yang benar: Saya telepon tiga hari lagi, kalau belum waktunya bilang saja.
Prospek berhenti membalas bukan karena follow up kurang banyak, tapi karena percakapan sebelumnya ditutup tanpa langkah berikutnya.

Kunci cara follow up customer yang tidak membalas chat ada di kalimat penutup

Follow up yang terasa seperti mengemis hampir selalu lahir dari percakapan yang ditutup terbuka. Kalimat penutupnya terdengar sopan: “nanti saya kabari,” “silakan dipelajari dulu,” “kalau ada pertanyaan hubungi saya.” Ketiganya memindahkan seluruh beban ke pihak lain. Anda tidak punya dasar untuk menghubungi, dan dia tidak punya kewajiban untuk menjawab.

Akibatnya Anda masuk mode menunggu. Setelah beberapa hari, Anda mulai mengarang alasan: menanyakan kabar, mengirim ulang berkas, memberi tahu ada promo. Setiap pesan jenis ini menurunkan posisi Anda satu tingkat. Pada pesan keempat, Anda bukan lagi penjual yang dipertimbangkan. Anda jadi gangguan yang didiamkan.

Perbaikannya bukan di kalimat follow up. Perbaikannya di kalimat penutup. Satu menit terakhir sebuah percakapan menentukan apakah pesan Anda pekan depan punya dasar atau tidak.

Kenapa chat “Pak, sudah dilihat penawarannya?” selalu diabaikan

Pesan itu gagal karena tiga hal, dan ketiganya soal beban yang Anda letakkan di pihak lain.

  • Pesan itu menuntut laporan. Dia harus mempertanggungjawabkan kelambatannya lebih dulu sebelum bisa menjawab apa pun.
  • Pesan itu tidak membawa apa-apa. Tidak ada informasi baru, tidak ada keputusan yang dipermudah. Hanya permintaan perhatian.
  • Pesan itu cuma menyediakan dua jawaban: “sudah” yang menyeretnya ke keputusan yang belum siap, atau “belum” yang membuatnya terlihat buruk. Pilihan ketiga yang paling murah adalah diam.

Diamnya dia jarang berarti penolakan. Lebih sering itu rasa tidak nyaman. Di kepalanya ada proyek lain, atasan yang belum setuju, anggaran yang belum turun. Membalas chat Anda berarti membuka urusan yang belum ada jawabannya. Jadi dia menunda, lalu lupa, lalu sungkan, lalu makin diam.

Tiga bagian kesepakatan langkah berikutnya

Kesepakatan langkah berikutnya bukan basa-basi penutup. Isinya tiga hal, dan ketiganya harus diucapkan sebelum percakapan selesai.

  1. Siapa menghubungi siapa. Jangan dibiarkan dua arah. Satu orang yang bertanggung jawab, dan sebaiknya itu Anda.
  2. Kapan, dalam angka. Bukan “pekan depan,” tapi jumlah hari yang disebut dan disetujui bersama.
  3. Atas dasar apa. Satu topik yang sudah dinamai. Bukan menanyakan kabar, tapi membahas hal yang sudah jelas duduk perkaranya.

Kalimatnya pendek saja: “Begini, Bu. Saya yang telepon, empat hari lagi, pagi. Yang kita bahas cuma satu: berapa cabang yang ikut di tahap pertama. Kalau angkanya belum keluar, Bu tinggal bilang, nanti saya atur ulang.” Setelah itu berhenti bicara. Tunggu dia membenarkan. Kesepakatan baru jadi kesepakatan kalau dia ikut menyetujuinya.

Satu pintu keluar yang sopan justru memancing balasan

Bagian yang paling ditakuti penjual ternyata bagian yang paling ampuh: memberi izin untuk menolak.

“Kalau memang bukan sekarang, bilang saja. Saya tidak akan tersinggung, dan saya tidak akan mengejar-ngejar.”

Kalimat ini bekerja karena mencabut satu-satunya alasan untuk diam. Orang mendiamkan chat karena tidak mau mengecewakan atau tidak mau berdebat. Begitu Anda menyatakan bahwa “tidak” adalah jawaban yang sah dan tidak berbiaya, membalas jadi lebih murah daripada mendiamkan.

Anda memang akan kehilangan beberapa prospek lebih cepat. Itu keuntungan, bukan kerugian. Prospek yang mati pelan-pelan memakan waktu, pikiran, dan harga diri Anda selama berbulan-bulan. Prospek yang berkata tidak hari ini mengembalikan kapasitas Anda untuk sepuluh prospek lain.

Kalimat yang salah dan penggantinya

Kalimat yang salahKalimat yang benar
“Pak, sudah dilihat penawarannya?”“Pak, sesuai janji kita, saya menghubungi soal jumlah titik pemasangan. Kalau belum waktunya, Pak bilang saja.”
“Nanti saya kabari lagi ya, Bu.”“Saya yang hubungi Bu, tiga hari lagi, untuk satu hal: jumlah lisensi di tahap pertama.”
“Maaf mengganggu, hanya mau menanyakan kabar.”“Saya kirim angka diskon kuantitas yang tadi Pak minta, supaya bisa dibawa ke rapat.”
“Mohon infonya ya Pak, ditunggu kabar baiknya.”“Kalau memang bukan sekarang, bilang saja. Saya berhenti menghubungi dan kita simpan untuk nanti.”
“Silakan dipelajari dulu, kalau ada pertanyaan hubungi saya.”“Supaya jelas: saya yang menelepon, empat hari lagi, membahas jadwal pemasangan. Setuju, Bu?”

Contoh percakapan: menutup penawaran dengan kesepakatan

Anda: “Bu Rina, sebelum saya tutup, ada satu hal yang mau saya pastikan supaya kita tidak saling menunggu.”

Rina: “Boleh. Tapi penawarannya saya pelajari dulu ya.”

Anda: “Siap. Yang mau saya pastikan bukan isi penawarannya, tapi langkah setelah ini. Yang bikin macet biasanya bukan harganya, tapi tidak ada yang tahu siapa harus bergerak lebih dulu.”

Rina: “Maksudnya bagaimana?”

Anda: “Saya yang telepon Bu, empat hari lagi, pagi. Satu topik saja: berapa cabang yang ikut di tahap pertama. Bisa?”

Rina: “Empat hari agak mepet. Saya harus bicara dengan pak direktur dulu.”

Anda: “Kalau tujuh hari?”

Rina: “Tujuh hari aman.”

Anda: “Baik, tujuh hari, saya yang telepon. Satu lagi, Bu. Kalau setelah bicara dengan beliau ternyata ini belum prioritas, bilang saja waktu saya telepon. Saya tidak akan tersinggung dan tidak akan mengejar-ngejar.”

Rina: “Tenang, saya kabari apa adanya.”

Anda: “Terima kasih. Kalau Bu butuh angka tambahan sebelum bicara dengan beliau, bilang saja, saya siapkan.”

Perhatikan apa yang terjadi di sana. Anda tidak sekali pun menanyakan apakah dia tertarik. Anda memindahkan percakapan dari “mau beli atau tidak” ke “bagaimana kita melanjutkan.” Lalu Anda membiarkan dia menawar waktunya sendiri. Begitu dia yang menyebut angka tujuh hari, jadwal itu jadi miliknya, bukan tuntutan Anda.

Dan waktu Anda menelepon nanti, Anda tidak sedang mengganggu. Anda sedang menjalankan janji yang dia ikut buat. Nada bicara Anda berbeda, posisi Anda berbeda. Kalau jawabannya ternyata tidak, Anda sudah menyiapkan jalan baginya untuk mengatakannya tanpa rasa bersalah — dan jawaban itu tetap lebih berharga daripada sunyi.

Catatan jujur soal status ilmiah NLP

Teknik seperti ini banyak diajarkan di pelatihan NLP, jadi perlu satu catatan jujur. Sebagian model NLP — termasuk klaim soal gaya berpikir visual, auditori, dan kinestetik, atau soal arah gerak mata — tidak punya dukungan riset yang kuat, dan beberapa gagal diuji ulang. Siapa pun yang mengatakan NLP terbukti secara ilmiah sedang menjual terlalu jauh.

Yang bertahan dari NLP adalah disiplin praktisnya: memperhatikan bahasa dengan teliti, menyiapkan kalimat sebelum dipakai, mengelola keadaan diri sebelum bicara, lalu memeriksa hasil dan mengubah cara. Kesepakatan langkah berikutnya berguna bukan karena ada label NLP di depannya. Berguna karena ia menghapus ketidakjelasan, dan ketidakjelasan itulah yang membunuh penjualan Anda.

Latihan untuk pekan ini

Ambil lima prospek yang sudah menerima penawaran dan sekarang diam. Jangan kirim pesan menanyakan kabar. Kirim satu pesan yang mengakui keadaan: sebut bahwa dulu tidak ada langkah berikutnya yang disepakati, sebut satu topik konkret, tawarkan satu waktu, dan tutup dengan pintu keluar yang sopan. Lalu untuk setiap percakapan penjualan baru pekan ini, jangan ditutup sebelum tiga bagian tadi diucapkan dan dibenarkan lawan bicara. Catat berapa yang membalas.

Kalau Anda ingin melatih kalimat-kalimat seperti ini sampai jadi kebiasaan, bukan hafalan, itu yang kami kerjakan di kelas NLP Practitioner yang dilatih oleh Licensed NLP Trainer by The Society of NLP. Anda berlatih memakai kasus penjualan Anda sendiri, bukan contoh karangan.

Ditulis oleh Agus Jatmika Soegiarto — Licensed NLP Trainer™ by The Society of NLP™.